📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Kamera yang terbaik adalah kesadaran. Dan foto yang paling abadi adalah kenangan yang dirasakan sepenuhnya oleh hati yang hadir. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
INSPIRASI - Pernahkah Anda berdiri di tepi pantai yang luar biasa indah, lalu tanpa sadar tangan Anda langsung meraih smartphone (telepon pintar) — bukan untuk menikmati, tapi untuk memotret?
Saya pernah. Bahkan lebih dari sekali.
Suatu sore di Pantai Barat Pangandaran, langit sedang menampilkan pertunjukan paling dramatis yang pernah saya lihat. Jingga bertemu ungu, awan berarak seperti lukisan yang belum selesai, dan ombak datang dengan ritme yang terasa seperti napas alam semesta sedang berdoa. Tapi apa yang saya lakukan selama lima belas menit pertama? Memindahkan keindahan itu ke dalam kotak kecil berukuran enam inci. Mencari angle (sudut pengambilan gambar) terbaik. Mengulang jepretan. Mengedit warna. Memikirkan caption (keterangan foto).
Dan ketika saya akhirnya meletakkan ponsel, langit sudah berubah. Momen itu pergi. Saya melewatkannya — bukan karena tidak hadir secara fisik, tapi karena tidak hadir secara jiwa.
Inilah dilema terbesar wisata modern yang jarang mau kita akui dengan jujur: kita datang ke suatu tempat untuk merasakan, tapi kita justru sibuk merekam. Kita hadir secara raga, tapi absen secara rasa.
Pangandaran, dengan segala keajaibannya — dari Green Canyon (Ngarai Hijau, destinasi wisata sungai eksotis) yang menakjubkan, Cagar Alam (kawasan hutan lindung) yang menyimpan keanekaragaman hayati langka, pantai timur dan baratnya yang memiliki karakter berbeda, hingga kehidupan nelayan yang otentik — adalah salah satu tempat yang paling sering menjadi korban dari paradoks ini.
Jutaan foto Pangandaran tersebar di Instagram (platform berbagi foto), TikTok (platform video pendek), dan berbagai platform digital. Tapi berapa banyak dari jutaan foto itu yang benar-benar merepresentasikan jiwa Pangandaran — bukan sekadar permukaan visualnya yang memukau?
Penelitian yang dipublikasikan dalam Tourism Management Journal (Gössling & Stavrinidi, 2016) menemukan bahwa perilaku wisatawan yang terlalu terfokus pada dokumentasi visual justru menurunkan kualitas pengalaman subjektif mereka secara signifikan. Dalam bahasa sederhana: semakin banyak foto yang Anda ambil, semakin sedikit kenangan yang benar-benar Anda rasakan. Bukan saya yang bilang ini — ilmu pengetahuan yang membuktikannya.
Lalu, di mana salahnya? Dan apa yang seharusnya kita lakukan?
1. Hadir Sepenuhnya: Seni yang Nyaris Punah di Era Algoritma
Eling (sadar dan ingat diri) adalah kata dalam bahasa Jawa yang kedalaman maknanya sulit diterjemahkan secara utuh. Lebih dari sekadar "sadar" — ia berarti hadir sepenuhnya, dengan seluruh rasa, pikiran, dan jiwa.
Dan eling adalah hal pertama yang kita korbankan ketika kamera kita nyalakan.
Studi dari Journal of Experimental Social Psychology (Henkel, 2014) menemukan fenomena yang dinamakan photo-taking impairment effect (efek gangguan akibat terlalu banyak memotret) — di mana orang yang terlalu banyak memotret objek justru mengingat lebih sedikit detail dibanding mereka yang hanya mengamati tanpa kamera. Ini bukan tentang teknologi yang buruk. Ini tentang bagaimana kita menggunakannya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ" — "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok." Kata "tanzhur" (memperhatikan) dalam ayat ini bukan sekadar melihat dengan mata — ia adalah menyaksikan dengan kesadaran penuh.
Sahabat nabi yang terkenal dengan kedalaman spiritualnya, Abu Dzar Al-Ghifari ra., pernah berkata: "Sungguh beruntung orang yang diam mulutnya namun sibuk hatinya." Di tepi pantai Pangandaran, diam sejenak dari kamera dan membiarkan hati yang berbicara — itulah tadabbur (perenungan mendalam) alam yang sesungguhnya.
Cobalah ini: ketika tiba di destinasi mana pun, sepakati dengan diri sendiri — dua puluh menit pertama hanya untuk hadir. Tidak ada kamera, tidak ada ponsel. Hanya mata, telinga, dan napas yang berdialog langsung dengan tempat itu.
2. Wisata yang Beradab: Ketika Kamera Menjadi Alat, Bukan Tujuan
Tidak ada yang salah dengan memotret. Yang bermasalah adalah ketika memotret menjadi tujuan wisata itu sendiri.
Ada perbedaan mendasar antara wisatawan yang memotret karena ingin mengabadikan kenangan dan wisatawan yang memotret karena ingin menampilkan diri. Yang pertama adalah ekspresi syukur — "ya Allah, indahnya ciptaan-Mu, izinkan aku mengingatnya." Yang kedua adalah ekspresi ego (rasa ingin diakui) — "lihat, aku sudah ke sini."
Penelitian dalam Computers in Human Behavior Journal (Chua & Banerjee, 2015) menemukan korelasi signifikan antara motivasi berbagi foto di media sosial dengan kebutuhan validasi sosial dan narcissism (kecintaan berlebihan pada diri sendiri). Semakin tinggi kebutuhan validasi seseorang, semakin besar kemungkinan pengalaman wisata mereka dikorbankan demi konten.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis: "Amal yang paling berbahaya adalah amal yang dilakukan karena ingin dilihat manusia." Dalam konteks wisata modern, ini adalah cermin yang perlu kita pegang — dan cukup jujur untuk melihat bayangan diri di dalamnya.
Urang Sunda (orang Sunda) punya ungkapan indah: "Ulah témbong bengkung, ulah témbong beulit" (jangan tampak bengkok, jangan tampak kusut) — sebuah ajakan untuk tampil dengan kejujuran dan ketulusan, bukan dengan pencitraan (membangun citra diri yang tidak otentik). Wisata yang beradab dimulai dari niat yang bersih: saya datang untuk menerima, bukan untuk tampil.
3. Dampak Kamera Massal terhadap Ekosistem dan Komunitas Lokal
Di sinilah dilema ini melampaui urusan personal dan menjadi urusan kolektif. Karena ketika jutaan kamera diarahkan ke satu tempat, ada konsekuensi yang dirasakan oleh alam dan manusia yang tinggal di sana.
Overtourism (pariwisata berlebihan) yang didorong oleh viral content (konten yang menyebar masif di media sosial) telah merusak beberapa destinasi paling indah di dunia. Boracay di Filipina sempat ditutup paksa akibat kerusakan ekologis yang dipercepat oleh serbuan wisatawan yang datang karena foto-foto di media sosial (Uyarra & Côté, 2019). Pangandaran, dengan kekayaan biodiversity (keanekaragaman hayati) di cagar alamnya, berpotensi mengalami nasib serupa jika tidak dikelola dengan kesadaran.
Allah SWT memperingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 205: "وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ" — "Dan apabila ia berpaling, ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak." Kerusakan tidak selalu lahir dari niat jahat. Kadang ia lahir dari ketidaksadaran yang terus diulang.
Seorang ranger (penjaga kawasan) Cagar Alam Pangandaran bercerita kepada saya: "Yang paling saya takutkan bukan orang yang sengaja merusak. Yang saya takutkan adalah ribuan orang yang tidak sadar bahwa mereka sedang merusak." Satu kalimat itu menghantam saya seperti ombak yang tidak terduga. Sadar adalah pertahanan pertama alam dari kehancuran yang dibungkus foto-foto cantik.
4. Pariwisata Sadar: Membangun Ekosistem Wisata yang Bermartabat
Ngaruwat (merawat, menjaga dengan rasa tanggung jawab yang dalam) adalah tradisi leluhur Sunda yang relevansinya justru semakin mendesak di era ini. Merawat tempat wisata bukan hanya tugas pemerintah atau pengelola — ia adalah tanggung jawab setiap orang yang menapakkan kaki di sana.
Responsible tourism (pariwisata bertanggung jawab) atau yang kini berkembang menjadi regenerative tourism (pariwisata yang memulihkan) adalah paradigma baru yang sedang mengubah industri perjalanan global. Studi dalam Journal of Sustainable Tourism (Higgins-Desbiolles, 2020) menegaskan bahwa model pariwisata masa depan bukan lagi soal berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan berapa besar dampak positif yang mereka tinggalkan.
Dalam sirah (perjalanan hidup) Nabi ﷺ, ada sebuah prinsip yang sering saya renungkan: beliau tidak pernah meninggalkan suatu tempat dalam kondisi lebih buruk dari ketika beliau datang. Bahkan dalam perjalanan sekalipun, beliau memastikan tidak ada yang tersakiti — manusia, hewan, maupun alam.
Tiga langkah nyata untuk menjadi wisatawan yang ngaruwat di Pangandaran: pertama, beli produk lokal langsung dari pengrajin atau nelayan — bukan dari toko souvenir (oleh-oleh) yang tidak jelas sumbernya. Kedua, kurangi sampah plastik secara aktif — bawa botol minum sendiri, tolak kantong plastik. Ketiga, belajar satu hal tentang budaya atau sejarah Pangandaran sebelum pulang — karena wisatawan yang pulang dengan pengetahuan baru adalah wisatawan yang meninggalkan rasa hormat, bukan hanya jepretan.
Pariwisata yang bermartabat dimulai dari wisatawan yang bermartabat.
Maka inilah insight utama yang ingin saya titipkan kepada Anda hari ini:
Kamera yang terbaik adalah kesadaran. Dan foto yang paling abadi adalah kenangan yang dirasakan sepenuhnya oleh hati yang hadir.
Dan aksi sederhana yang bisa Anda lakukan sekarang juga — bahkan sebelum Anda menutup layar ini: putuskan bahwa perjalanan Anda berikutnya ke Pangandaran, atau ke mana pun, akan dimulai dengan dua puluh menit tanpa kamera. Dua puluh menit yang dipersembahkan sepenuhnya untuk hadir — untuk melihat, mendengar, mencium, dan merasakan. Biarkan alam berbicara langsung ke dalam jiwa Anda, tanpa filter, tanpa editing (penyuntingan).
Dan pada akhirnya, saya ingin bertanya kepada Anda — bukan sebagai retorika, tapi sebagai undangan untuk jujur pada diri sendiri: kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir di sebuah tempat yang indah, tanpa sedetik pun tergoda untuk membuka kamera?
Apakah pertanyaan itu terasa menggigit? Saya rasa memang begitu seharusnya — karena kejujuran selalu sedikit tidak nyaman di awal, sebelum ia menjadi pembebasan. Tulisan ini adalah bagian dari perjalanan panjang saya merenungi bagaimana manusia modern berhubungan dengan alam, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Temukan kelanjutan perenungan ini di "Sampah di Surga: Wajah Pangandaran yang Tidak Ada di Foto" — baca hanya di blog ini ya!
Dan sekarang, giliran Anda bersuara: menurut Anda, apa yang lebih berharga dibawa pulang dari Pangandaran — seribu foto di galeri ponsel, atau satu momen yang dirasakan sepenuhnya oleh hati? Tulis jawaban Anda di kolom komentar — saya membaca semuanya, dan jawaban Anda mungkin akan menjadi awal dari tulisan berikutnya.
Daftar Pustaka
Chua, T. H. H., & Banerjee, S. (2015). Understanding sharing on social media: A social capital perspective. Computers in Human Behavior, 51, 539–547. https://doi.org/10.1016/j.chb.2015.05.032
Gössling, S., & Stavrinidi, I. (2016). Social networking, tourism, and the evolution of travel related information. Tourism Management Perspectives, 17, 1–10. https://doi.org/10.1016/j.tmp.2015.10.004
Henkel, L. A. (2014). Point-and-shoot memories: The influence of taking photos on memory for a museum tour. Psychological Science, 25(2), 396–402. https://doi.org/10.1177/0956797613504438
Higgins-Desbiolles, F. (2020). Socialising tourism for social and ecological justice after COVID-19. Tourism Geographies, 22(3), 610–623. https://doi.org/10.1080/14616688.2020.1757354
Uyarra, M. C., & Côté, I. M. (2019). Crowding costs in a coral reef snorkelling area. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems, 29(3), 462–469. https://doi.org/10.1002/aqc.3012
Al-Qur'an Al-Karim. Surah Al-Hasyr: 18; Surah Al-Baqarah: 205.
Al-Ghazali. (t.t.). Ihya Ulumuddin (Jil. 3). Darul Ma'rifah.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






Tulis Komentar di Bawah ini!