📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Mencintai Pangandaran bukan tentang seberapa sering Anda datang. Tapi tentang apa yang Anda tinggalkan — dan apa yang Anda bawa pulang sebagai tanggung jawab. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
INSPIRASI - Kantong plastik itu mengambang pelan. Ia tidak terburu-buru. Seolah tahu bahwa ia punya waktu ratusan tahun untuk akhirnya hancur — jika memang benar-benar akan hancur.
Saya melihatnya pertama kali di muara kecil dekat Pantai Timur Pangandaran. Pagi masih buta, nelayan baru saja mendorong perahu, dan di antara buih ombak yang putih bersih itu, kantong plastik kuning kumal itu bergerak tenang — seolah juga sedang berwisata. Ironi yang menyakitkan: ia hadir di salah satu tempat terindah di selatan Jawa, tanpa diundang, tanpa membayar tiket masuk, tapi dengan durasi tinggal yang jauh lebih lama dari wisatawan manapun.
Dan saya diam cukup lama memandanginya. Bukan karena terpesona. Tapi karena tiba-tiba merasa ikut bersalah.
Pangandaran adalah surga. Ini bukan hiperbola. Pantainya punya dua wajah — timur dan barat — yang bisa Anda nikmati dalam satu hari yang sama. Green Canyon (Ngarai Hijau) menawarkan petualangan sungai yang terasa seperti masuk ke dalam lukisan. Cagar alamnya menyimpan ratusan spesies yang tak ditemukan di tempat lain. Kulinernya jujur dan berlimpah. Penduduknya hangat dengan keramahan khas urang Sunda (orang Sunda) yang tidak dibuat-buat.
Tapi ada wajah lain Pangandaran yang tidak pernah ada di foto-foto yang beredar di feed (beranda) media sosial Anda. Wajah itu bernama sampah.
Bukan sampah yang sedikit. Bukan sampah yang bisa diabaikan. Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pangandaran mencatat bahwa volume sampah meningkat drastis di setiap musim liburan — dan pengelolaannya masih jauh dari ideal. Sampah plastik berserakan di bibir pantai, mengapung di muara, bahkan ditemukan di dalam kawasan cagar alam yang seharusnya steril dari sentuhan tangan manusia yang ceroboh.
Yang lebih menggetarkan bukan angkanya. Yang menggetarkan adalah siapa yang membawa sampah itu ke sana.
Kita. Para wisatawan. Para tamu yang datang mengagumi keindahannya, lalu meninggalkan jejaknya dalam bentuk plastik yang bertahan seribu tahun.
Penelitian dalam Marine Pollution Bulletin (Jambeck et al., 2015) — salah satu studi paling banyak dikutip dalam isu polusi laut global — menemukan bahwa Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Sebagian besar dari sampah itu berasal bukan dari industri besar, melainkan dari kebiasaan sehari-hari jutaan manusia biasa. Manusia seperti kita.
Pertanyaan yang menggantung di kepala saya sejak melihat kantong plastik itu: apakah kita benar-benar mencintai Pangandaran, atau kita hanya mencintai foto kita di Pangandaran?
1. Sampah adalah Cermin, Bukan Sekadar Masalah Teknis
Rérésan — dalam bahasa Sunda, kata ini berarti membersihkan, membereskan, menata kembali apa yang berantakan. Tapi rérésan sejati bukan dimulai dari tangan yang memungut sampah. Ia dimulai dari hati yang mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalah.
Selama ini kita cenderung melihat sampah sebagai masalah teknis: kurang tempat sampah, kurang petugas kebersihan, kurang anggaran pengelolaan. Semua itu benar. Tapi ada lapisan yang lebih dalam yang jarang kita sentuh — sampah adalah cermin dari cara kita memandang hubungan antara diri sendiri dengan alam dan sesama.
Penelitian dalam Environment and Behavior Journal (Steg & Vlek, 2009) membuktikan bahwa perilaku pro-lingkungan tidak cukup digerakkan oleh informasi atau sanksi semata. Yang paling efektif adalah perubahan values (nilai-nilai) — dari orientasi egoistik menuju orientasi biospheric (peduli pada keseimbangan ekosistem secara menyeluruh).
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 77: "وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ" — "Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi."
Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata: "Nilai seseorang terlihat dari apa yang ia tinggalkan, bukan dari apa yang ia bawa pergi." Di Pangandaran, kita meninggalkan apa? Kenangan indah dalam memori — atau plastik yang bertahan seribu tahun di pasirnya?
Mulailah dari pengakuan yang sederhana namun jujur: saya pernah menjadi bagian dari masalah ini. Dari situ, perubahan yang nyata bisa dimulai.
2. Tradisi Lokal yang Lebih Hijau dari Semua Slogan Lingkungan Modern
Sebelum plastik ada, manusia sudah hidup. Dan mereka hidup berdampingan dengan alam jauh lebih harmonis dari kita yang katanya lebih "modern" dan "terdidik" ini.
Masyarakat pesisir Pangandaran punya tradisi ngamumule laut (merawat dan menghormati laut) yang bukan sekadar ritual — ia adalah sistem manajemen lingkungan yang diwariskan turun-temurun. Ada pantangan membuang sesuatu ke laut sembarangan. Ada ritual hajat laut (syukuran laut) yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa laut adalah titipan, bukan milik siapa-siapa. Ada norma sosial yang membuat orang sungkan (merasa tidak enak hati) merusak alam di depan tetangganya.
Studi dalam Ecology and Society Journal (Berkes, 2012) membuktikan bahwa Traditional Ecological Knowledge (Pengetahuan Ekologi Tradisional) komunitas pesisir justru lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dibanding regulasi modern yang top-down (dari atas ke bawah) jika tidak dibarengi partisipasi masyarakat.
Seorang emak-emak (ibu-ibu, kaum perempuan dewasa) di pasar ikan Pangandaran pernah menasihati saya tanpa diminta: "Laut itu kayak orang tua, Mas. Kalau dihormati, dia kasih makan. Kalau dihinain, dia marah." Kalimat itu tidak ada dalam textbook lingkungan hidup manapun. Tapi kebenarannya terasa lebih dalam dari banyak teori yang pernah saya baca di bangku kuliah.
Kita tidak perlu menciptakan budaya baru. Kita hanya perlu kembali — pada kearifan yang sudah ada, yang sedang kita tinggalkan karena terlalu sibuk mengagumi hal-hal dari luar.
3. Wisatawan Bertanggung Jawab: Dari Konsumen Menjadi Penjaga
Ada pergeseran paradigma besar yang sedang terjadi di dunia pariwisata global — dan Pangandaran punya peluang besar untuk menjadi bagian dari gelombang itu, bukan korban yang ditinggalkan.
Konsep regenerative tourism (pariwisata yang memulihkan) yang sedang berkembang pesat pasca pandemi bukan sekadar tentang "tidak merusak." Ia tentang meninggalkan tempat yang dikunjungi dalam kondisi yang lebih baik dari sebelum kita datang. Ini bukan utopia — ini sudah dipraktikkan di beberapa destinasi wisata terkemuka di dunia, dari Kosta Rika hingga Selandia Baru (Ateljevic, 2020).
Rasulullah ﷺ bersabda: "إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ" — "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah..." (HR. Muslim). Menanam pohon di tepi pantai yang tererosi, membersihkan sampah di Cagar Alam Pangandaran, atau mendukung program daur ulang komunitas lokal — semua itu adalah sedekah jariyah (amal yang pahalanya terus mengalir) dalam wajah paling konkret dan ekologis.
Tokoh lingkungan hidup Indonesia, Siti Nurbaya, pernah mengingatkan dalam berbagai forum: "Lingkungan yang rusak tidak bisa dipulihkan hanya dengan regulasi. Yang memulihkan adalah manusia yang berubah." Perubahan itu dimulai dari keputusan kecil: membawa kantong belanja sendiri, menolak sedotan plastik, memungut satu sampah yang bukan milik kita sebelum pulang dari Pangandaran.
Satu wisatawan yang rérésan (membereskan, membersihkan) lebih berharga dari seribu wisatawan yang hanya memberi like (tanda suka) di foto pantai.
4. Sistem yang Perlu Dibangun: Pangandaran Butuh Lebih dari Sekadar Kesadaran
Saya tidak ingin tulisan ini hanya menjadi kritik moral yang nyaman dibaca tapi tidak mengubah apapun. Karena jujur saja — menyalahkan wisatawan sepenuhnya juga tidak adil, jika sistem pengelolaan sampah di destinasi wisata memang belum memadai.
Sistemik (bersifat sistem, menyeluruh) — itulah kata kuncinya. Perubahan perilaku individu harus didukung oleh infrastruktur yang memudahkan pilihan yang benar.
Penelitian dalam Waste Management Journal (Guerrero et al., 2013) menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di destinasi wisata sangat bergantung pada tiga faktor: ketersediaan fasilitas yang memadai, sistem insentif yang tepat, dan keterlibatan aktif komunitas lokal sebagai stakeholder (pemangku kepentingan) utama — bukan sekadar objek program.
Surah Ali Imran ayat 104 mengingatkan: "وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ" — "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar."
Tabiin besar, Hasan Al-Bashri, mengajarkan: "Jangan menunggu pemimpin yang sempurna untuk memulai kebaikan. Mulailah dari dirimu, maka kamu sudah menjadi pemimpin itu." Dalam konteks ini, artinya: jangan menunggu pemerintah daerah membangun sistem sempurna dulu. Mulailah dari komunitas wisatawan yang terorganisir, dari gerakan bersih-bersih (kegiatan membersihkan lingkungan bersama) pantai yang rutin, dari tekanan kolektif yang sopan namun tegas kepada pengelola untuk menyediakan fasilitas dasar pengelolaan sampah yang layak.
Pangandaran butuh ekosistem, bukan sekadar kampanye. Dan ekosistem itu dibangun oleh setiap orang yang peduli — termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini sekarang.
Maka inilah insight utama yang ingin saya titipkan lewat setiap kata dalam tulisan ini:
Mencintai Pangandaran bukan tentang seberapa sering Anda datang. Tapi tentang apa yang Anda tinggalkan — dan apa yang Anda bawa pulang sebagai tanggung jawab.
Dan aksi sederhana yang bisa Anda lakukan sekarang juga: sebelum perjalanan wisata berikutnya ke Pangandaran atau ke mana pun, masukkan satu kantong lipat ke dalam tas Anda. Bukan untuk berpose dengan gaya eco-friendly (ramah lingkungan) di media sosial. Tapi karena Anda tahu bahwa pilihan kecil itu adalah doa yang dipanjatkan dengan tangan dan langkah kaki — bukan sekadar dengan bibir.
Dan saya ingin menutup tulisan ini dengan satu pertanyaan yang mungkin akan terus bergema dalam benak Anda: jika Pangandaran adalah surga yang dipinjamkan kepada kita, sudahkah kita menjadi tamu yang pantas tinggal di sana — atau kita hanya tamu yang pandai berfoto di depan pintunya?
Apakah Anda pernah merasa dilema antara ingin menikmati keindahan alam dan sadar bahwa kehadiran kita sendiri bisa menjadi ancaman baginya? Perasaan itu bukan kelemahan — itu adalah awal dari kesadaran yang sesungguhnya.
Tulisan ini adalah bagian dari perjalanan reflektif yang terus saya jaga dan rawat. Temukan kelanjutan dan kejutan berikutnya di "Kuliner Pangandaran: Ketika Lidah Berbicara Lebih Jujur dari Mata" — baca hanya di blog ini ya! Sekarang, saya ingin mendengar suara Anda: satu hal apa yang paling ingin Anda ubah dari cara Anda berwisata selama ini? Tulis di kolom komentar — karena perubahan besar selalu dimulai dari percakapan kecil yang jujur.
Daftar Pustaka
Ateljevic, I. (2020). Transforming the (tourism) world for good and (re)generating the potential 'new normal'. Tourism Geographies, 22(3), 467–475. https://doi.org/10.1080/14616688.2020.1759134
Berkes, F. (2012). Sacred ecology (3rd ed.). Routledge.
Guerrero, L. A., Maas, G., & Hogland, W. (2013). Solid waste management challenges for cities in developing countries. Waste Management, 33(1), 220–232. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2012.09.008
Jambeck, J. R., Geyer, R., Wilcox, C., Siegler, T. R., Perryman, M., Andrady, A., Narayan, R., & Law, K. L. (2015). Plastic waste inputs from land into the ocean. Science, 347(6223), 768–771. https://doi.org/10.1126/science.1260352
Steg, L., & Vlek, C. (2009). Encouraging pro-environmental behaviour: An integrative review and research agenda. Journal of Environmental Psychology, 29(3), 309–317. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2008.10.004
Al-Qur'an Al-Karim. Surah Al-Qashash: 77; Surah Ali Imran: 104.
HR. Muslim (No. 1631). Shahih Muslim, Kitab Al-Wasiyyah.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






Tulis Komentar di Bawah ini!