📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Ekonomi yang sesungguhnya bukan yang diajarkan di kampus dengan papan tulis dan slide presentasi. Ekonomi yang sesungguhnya adalah yang tumbuh dari kepercayaan, dari keringat, dari doa fajar seorang nelayan yang mendorong perahunya ke laut sambil membaca bismillah. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
INSPIRASI - Pagi itu, jam belum menunjukkan angka lima. Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan laut Pangandaran ketika saya melihat seorang lelaki tua mendorong perahunya ke tepi ombak. Tangannya kasar, punggungnya membungkuk, tapi matanya — matanya itu yang membuat saya terdiam lama. Ada keyakinan di sana. Bukan keyakinan yang lahir dari kelas microeconomics (ekonomi mikro) atau seminar investasi berbayar mahal. Keyakinan itu lahir dari sesuatu yang jauh lebih tua: pengalaman, paseduluran (persaudaraan), dan kepercayaan penuh kepada Yang Maha Mengatur rezeki.
Pak Rasim namanya. Nelayan berusia 63 tahun yang sudah empat dekade berdialog dengan laut. Saya bertanya kepadanya, "Pak, bagaimana caranya tahu kapan ikan banyak?" Ia tertawa kecil, lalu menjawab dengan santai, "Laut itu ngomong, Mas. Tinggal mau dengerin apa engga."
Kalimat itu menghantam saya lebih keras dari semua teori ekonomi yang pernah saya baca.
Ada ironi yang diam-diam menyimpan luka di balik pesona Pangandaran yang kian mendunia. Di satu sisi, kabupaten ini sedang melesat — infrastruktur tumbuh, hotel berdiri, wisatawan datang dari penjuru dunia. Tapi di sisi lain, para nelayan yang telah menjadi punggawa (tulang punggung) kehidupan pesisir selama ratusan tahun justru kerap tertinggal dari percepatan itu. Pendapatan mereka fluktuatif. Akses modal terbatas. Pengetahuan tentang rantai pasok dan harga pasar nyaris tidak ada.
Dan ironisnya lagi — justru dari merekalah pelajaran ekonomi paling jujur bisa kita temukan.
Bukan ekonomi supply and demand (penawaran dan permintaan) yang kaku. Bukan teori market equilibrium (keseimbangan pasar) yang dingin. Tapi ekonomi yang hidup dalam nafas, dalam keringat, dalam doa sebelum perahu didorong ke laut. Ekonomi yang akarnya adalah kepercayaan, dan buahnya adalah keberlanjutan.
Studi dari World Bank tentang komunitas nelayan di Asia Tenggara (Béné et al., 2010) menemukan bahwa kemiskinan nelayan kecil bukan semata-mata soal kurangnya tangkapan, melainkan soal ketidaksetaraan akses terhadap informasi pasar, modal, dan jaringan distribusi. Artinya, masalahnya bukan pada laut. Masalahnya ada di darat — pada sistem yang belum sepenuhnya berpihak.
1. Laut Mengajarkan Apa yang Tidak Ada di Buku Teks
Tadabbur (merenungi dengan mendalam) terhadap kehidupan nelayan adalah kuliah (pendidikan) yang tak ternilai harganya. Mereka adalah manajer risiko paling tangguh yang pernah ada — tanpa gelar MBA, tanpa kursus risk management (manajemen risiko).
Setiap hari mereka membuat keputusan besar: apakah hari ini aman untuk melaut? Berapa bahan bakar yang harus dibawa? Ke zona mana harus berlayar? Keputusan-keputusan ini tidak didasarkan pada spreadsheet (lembar kerja data), melainkan pada kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dan kepekaan terhadap tanda-tanda alam.
Penelitian dalam Marine Policy Journal (Pálsson, 2013) menegaskan bahwa pengetahuan ekologis lokal nelayan tradisional — yang disebut Local Ecological Knowledge (pengetahuan ekologi lokal) — terbukti memiliki akurasi prediksi yang setara, bahkan kadang melampaui, model ilmiah modern dalam mendeteksi perubahan pola ikan.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 14: "وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا" — "Dan Dialah yang menundukkan lautan agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar." Laut bukan hanya sumber protein. Ia adalah ruang tarbiyah (pendidikan karakter) — tempat manusia belajar tawakkal, ketekunan, dan keberanian yang berakar pada iman.
Pak Rasim adalah satu dari ribuan guru tak bergelar yang dimiliki Pangandaran. Pertanyaannya: sudahkah kita mau sinau (belajar) dari mereka?
2. Modal Bukan Hanya Uang — Ini yang Kampus Jarang Ajarkan
Salah satu kesalahan besar cara pandang pembangunan ekonomi adalah mereduksi modal hanya pada angka di rekening bank. Padahal, para nelayan Pangandaran sudah lama mempraktikkan apa yang oleh para ekonom kemudian diberi nama social capital (modal sosial) — jauh sebelum istilah itu dipopulerkan Robert Putnam pada 1993.
Arisan (sistem tabungan bergilir) nelayan, sistem bagi hasil maro (bagi dua) antara pemilik perahu dan anak buah kapal (ABK, awak kapal), hingga tradisi saling berbagi ikan hasil tangkapan pertama — semua itu adalah ekosistem ekonomi yang dibangun di atas fondasi kepercayaan, bukan kontrak notaris.
Studi lintas negara dalam Journal of Development Economics (Knack & Keefer, 1997) membuktikan bahwa tingginya kepercayaan sosial dalam sebuah komunitas berkorelasi positif dan signifikan dengan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Artinya, paseduluran bukan sekadar nilai budaya yang indah diucapkan — ia adalah aset ekonomi yang sangat riil.
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. pernah berkata: "Orang yang paling lemah di antara kalian adalah orang yang lemah dalam menunaikan hak-hak orang lain." Dalam konteks ekonomi nelayan, ini berarti: sistem yang adil dan saling percaya adalah fondasi kesejahteraan, bukan kemewahan.
Maka, jika Pangandaran ingin benar-benar maju, bukan hanya investasi kapital fisik yang dibutuhkan. Yang lebih mendesak adalah investasi pada modal sosial — memperkuat jaringan srawung (pergaulan dan jejaring) antara nelayan, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha lokal.
3. Perempuan Pesisir: Ekonomi yang Tersembunyi di Balik Layar
Ada bagian dari ekonomi Pangandaran yang jarang masuk berita: perempuan pesisir. Istri-istri nelayan yang setiap pagi sudah sibuk di tempat pelelangan ikan, mengolah hasil tangkapan, menjajakan ke pasar, mengelola keuangan keluarga — semuanya dikerjakan diam-diam, tanpa sorotan kamera.
Penelitian dari Feminist Economics Journal (Teh et al., 2019) mengungkap bahwa perempuan menanggung 60–80% pekerjaan pasca-tangkap dalam industri perikanan skala kecil di Asia Tenggara, namun hanya mendapat kurang dari 30% pengakuan ekonomi formal dari kontribusi itu. Ini bukan statistik biasa. Ini potret ketidakadilan yang berjalan perlahan dalam keheningan.
Rasulullah ﷺ bersabda: "إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ" — "Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Dalam bahasa ekonomi modern, hadis ini berbicara tentang gender equity (kesetaraan gender) dalam partisipasi ekonomi.
Saya teringat seorang ibu di pasar ikan Pangandaran — Bu Yati — yang dengan cekatan memotong, membungkus, dan menghitung kembalian sambil menggendong anaknya yang belum genap dua tahun. Ia tersenyum ketika saya bertanya soal omzetnya. "Lumayan, Mas. Yang penting cukup buat makan dan sekolah anak." Kata "cukup" dari bibirnya terdengar lebih bermartabat dari banyak pidato ekonomi yang pernah saya dengar.
Pemberdayaan perempuan pesisir bukan program sosial — ini strategi ekonomi paling cost-effective (hemat biaya dan efektif) yang bisa dilakukan Pangandaran.
4. Digitalisasi untuk Nelayan: Jembatan atau Jurang Baru?
Kita hidup di era di mana informasi harga ikan bisa berubah dalam hitungan menit, tapi para nelayan di Pangandaran masih banyak yang menjual hasil tangkapannya kepada tengkulak dengan harga yang ditentukan sepihak. Ironis (menyedihkan dan berlawanan), bukan?
Digital inclusion (inklusi digital) bukan hanya soal membagikan smartphone (telepon pintar) murah. Ia soal ekosistem: sinyal yang kuat di tengah laut, platform digital yang ramah bagi pengguna dengan tingkat melek huruf rendah, dan literasi keuangan yang disampaikan dalam bahasa yang dipahami nelayan, bukan bahasa brosur bank.
Studi dalam Journal of Rural Studies (Salemink et al., 2017) membuktikan bahwa digital divide (kesenjangan digital) di komunitas pesisir bukan soal keengganan masyarakat terhadap teknologi, melainkan soal ketidaksesuaian desain teknologi dengan konteks kehidupan mereka. Teknologi yang baik adalah teknologi yang nyetel (cocok dan pas) dengan penggunanya — bukan yang memaksa penggunanya menyesuaikan diri.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, ulama besar abad ke-14, pernah menulis dalam Miftah Dar As-Sa'adah: "Akal yang baik adalah akal yang digunakan untuk maslahat, bukan sekadar untuk pamer kepandaian." Digitalisasi yang benar untuk nelayan Pangandaran adalah digitalisasi yang maslahat (bermanfaat luas) — yang membuka akses pasar, memperpendek rantai distribusi, dan mengembalikan kedaulatan harga ke tangan nelayan itu sendiri.
Maka inilah insight utama yang ingin saya titipkan lewat tulisan ini:
Ekonomi yang sesungguhnya bukan yang diajarkan di kampus dengan papan tulis dan slide presentasi. Ekonomi yang sesungguhnya adalah yang tumbuh dari kepercayaan, dari keringat, dari doa fajar seorang nelayan yang mendorong perahunya ke laut sambil membaca bismillah.
Dan aksi sederhana yang bisa Anda lakukan sekarang juga: lain kali Anda membeli ikan di pasar atau warung seafood di Pangandaran, tanyakan nama nelayannya. Satu pertanyaan kecil itu adalah pengakuan — bahwa ada manusia di balik setiap hidangan yang Anda nikmati. Dan pengakuan itu, sekecil apapun, adalah awal dari perubahan yang lebih besar.
Tapi ada satu pertanyaan yang belum terjawab dan terus menggelisahkan saya: jika para nelayan Pangandaran sudah mengajarkan kita pelajaran ekonomi paling jujur selama berabad-abad, mengapa justru merekalah yang paling jarang diundang duduk di meja perencanaan pembangunan daerahnya sendiri?
Apakah Anda juga pernah merasa bahwa pelajaran terpenting dalam hidup justru datang dari orang-orang yang tidak punya gelar? Tulisan Arda Dinata kali ini memang sengaja mengajak kita untuk sinau dari tempat-tempat yang sering kita lewati begitu saja. Temukan kelanjutan perenungan ini di "Wisata Pangandaran dan Dilema Antara Kamera dan Kesadaran" — hanya di blog ini ya!
Dan sekarang giliran Anda: menurut Anda, apa satu hal konkret yang paling mendesak dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan Pangandaran? Tuliskan di kolom komentar — karena jawaban terbaik kadang bukan dari penulis, tapi dari Anda yang membacanya.
Daftar Pustaka
Béné, C., Hersoug, B., & Allison, E. H. (2010). Not by rent alone: Analysing the pro-poor functions of small-scale fisheries in developing countries. Development Policy Review, 28(3), 325–358. https://doi.org/10.1111/j.1467-7679.2010.00486.x
Knack, S., & Keefer, P. (1997). Does social capital have an economic payoff? A cross-country investigation. Quarterly Journal of Economics, 112(4), 1251–1288. https://doi.org/10.1162/003355300555475
Pálsson, G. (2013). Ensembles of biosocial relations. In T. Ingold & G. Pálsson (Eds.), Biosocial becomings: Integrating social and biological anthropology (pp. 22–41). Cambridge University Press.
Putnam, R. D. (1993). Making democracy work: Civic traditions in modern Italy. Princeton University Press.
Salemink, K., Strijker, D., & Bosworth, G. (2017). Rural development in the digital age: A systematic literature review on unequal ICT availability, adoption, and use in rural areas. Journal of Rural Studies, 54, 360–371. https://doi.org/10.1016/j.jrurstud.2015.09.001
Teh, L. C. L., Teh, L. S. L., & Meitner, M. J. (2019). Gender and the blue economy. In Ocean & Coastal Management. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2019.105009
Al-Qur'an Al-Karim. Surah An-Nahl: 14.
HR. Abu Dawud (No. 236) dan At-Tirmidzi (No. 113). Dinilai hasan oleh Al-Albani.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.







Tulis Komentar di Bawah ini!